Tompi Jatuh Hati Dengan Dunia Fotografi!


Foto: Instagram @dr_tompi
JATUH CINTA PADA KAMERA ANALOG

Jakarta, Gozzip. Selain penyanyi dan dokter bedah plastik, sebuah profesi tengah dirintis Tompi. Yakni fotografer. Diam-diam lelaki yang mempunyai nama lengkap Teuku Adifitrian itu memang sedang jatuh hati pada urusan foto-memfoto. "Saya mulai mengenal fotografi sejak tujuh tahun lalu. Tapi serius memotret baru tiga tahun belakangan. Apa saja saya potret, apapun yang menarik disekitar saya," ungkapnya kepada Nyata saat ditemui di TIM, Jakarta beberapa waktu lalu.

Tompi mengaku pada awalnya ia belajar fotografi dengan kamera digital. Namun belakangan ia lebih suka mengotak-atik kamera analog. Sekedar tahu yang disebut kamera analog adalah jenis kamera yang masih menggunakan negatif film untuk merekam gambar. "Ketika masih pakai kamera digital, semangat saya memotret biasa saja. Namun setelah pakai analog, saya benar-benar jatuh cinta dan maunya motret setiap hari," lelaki 38 tahun itu mengaku.

Tompi lalu menyebut beberapa kamera digital yang menjadi koleksinya. "Saya punya N90, kamera N240 keluaran terakhir saya juga punya. Saat itu saya sudah happy. Namun setelah lihat hasil dari kamera yang menggunakan film, saya enggak bisa berpaling lagi. Sejak itu saya pilih analog. Ibaratnya hasil digital itu KW-nya analog. Kalau ada yang asli, ngapain pilih yang KW," tukasnya.

Memang, belajar dari kamera analog tidak segampang kamera digital. "Waktu pertama mencoba memang malas, karena repot dan buang-buang waktu. Tapi setelah mencoba, saya malah jadi ketagihan dan akhirnya terperangkap," ungkapnya sambil tersenyum.

Tompi tak ingin setengah-setengah belajar menggunakan kamera analog. Ia pun berguru pada beberapa fotografer seniornya seperti Benny Asrul, Tommy N. Armansyah dan Haryanto R. Devcom. "Ilmu dari mereka saya kembangkan sendiri. Misalnya mencetak di ruang gelap," terangnya.

Menurut Tompi, menggeluti analog menjadi menarik karena prosesnya yang seru dan hasilnya sangat kaya. "Semakin dalam menggeluti fotografi analog, semakin terasa bagaimana dunia digital masih jauh dari rasa analog," selorohnya. Tompi mengaku dari segi warna, kedalaman dan keindahan, hasil analog sangat berbeda dibanding digital. "Pokoknya hasil kamera film belum tertandingi oleh digital," katanya.

Karena saat ini pabrik tidak lagi memproduksi kamera analog, untuk memuaskan hasratnyaTompi terpaksa berburu kamera bekas. "Saya cari di bursa-bursa online. Saat ini saya punya koleksi 14 kamera analog. Diantaranya Leica M4-2, M7, MP dan Leica IIIc," terangnya.

Meski dari merek-merek terkenal, semua kamera analog Tompi dibeli dengan harga miring. "Saya beli murah, nggak sampai jutaan. Selain browsing di internet, saya ketemu orang yang lagi BU alias butuh duit he he," ujarnya terkekeh. Tompi menampik proses cetak analog lebih mahal.

"Sebenarnya sih lebih murah. Karena saya cuci cetak sendiri. Sekali nyuci, pakai cairan hanya sejumput dan dicampur air 100cc. Didiamkan sekitar satu jam selesai deh," urainya tentang proses cetak film untuk kamera analog. Karena proses cuci cetak harus dilakukan di ruangan gelap, Tompi terpaksa membuat ruangan itu di tempat praktek bedah pelastiknya. " Sengaja saya buat ruang gelap untuk cuci cetak hasil jepretan saya," katanya.

Baca naskah asli...
Share on Google Plus

About KFM Infotainment

Komunitas Fotografer & Model (KFM). SK KEMENKUMHAM : No. AHU-0072962.AH.01.07. Tahun 2016

0 komentar :

Posting Komentar