Menelanjangi Darwis Triadi

Foto: Shan Shine
Lahir di Solo 59 tahun silam pemilik nama Andreas Darwis Triadi tersohor di jagad negeri ini sebagai seorang fotografer profesional Indonesia yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan budaya Jawa tradisional.

Babeh, demikian panggilan akrab sang maestro fotografi gaek ini mengawali debut karir dengan menuntut ilmu di sebuah seko-lah tinggi penerbangan di daerah Curug, Tangerang tahun 1975. Di tahun 1978, beliau telah mengantongi surat izin terbang, akan tetapi sepertinya beliau tidak merasa bangga akan hal itu. Padahal, profesi sebagai penerbang pesawat tergolong sebuah profesi yang sangat bergengsi.

Namun, Darwis merasa tidak cocok dengan profesinya sebagai penerbang. Hal tersebut dipicu karena pergaulan-nya berasal dari kalangan dunia fashion, bukan di udara.

Darwis mengambil keputusan untuk menggali dan memulai karier di bidang fotografi pada tahun 1979 dengan ber-modal kamera pinjaman dari seorang sahabatnya bernama Tafi dalam kurun waktu dua tahun.

Pengetahuan fotografinya digali secara otodidak melalui buku-buku yang dibacanya hasil karya para wartawan, uniknya lagi Darwis menggemari buku-buku bacaan tentang perang.

Pada tahun 1980 Darwis memulai me-motret untuk komersil dalam pembuat-an brosur Hotel Borobudur dengan bayaran kala itu 50.000 rupiah, lalu di tahun 1981 mulai mengembangkan karir dengan mengadakan pameran foto-grafi bersama para fotografer amatir lain dengan tema memukau lansekap dan humanity interest yang dipilihnya kala itu.

Sejak tahun 1983, Darwis memperda-lam ilmu fotografi dengan mengikuti teknik pencahayaan dan teknik kamera di Jerman dan Swiss. Pada tahun 1990, beliau diberi kepercayaan untuk berpar-tisipasi dalam media dan ajang interna-sional, seperti majalah tahunan Hassel-blad, acara Photo Kina International, Competition di Köln, Jerman.

Darwis juga mengerjakan berbagai macam foto produk untuk iklan, seperti Nokia, Indofood, Unilever, Sony Music, Mustika Ratu. Darwis juga telah menghasilkan karya berupa buku mengenai fotografi seperti Kembang Setaman, Secret Lighting dan Terra Incognita Tropicale dan juga maja-lah Indonesian Photographer.

Seiring berkembangnya zaman, antusi-asme masyarakat akan keingintahuan-nya tentang ilmu fotografi semakin tak terbendung. Akhirnya, Darwis mendiri-kan sebuah lembaga pendidikan foro-grafi yang berlabel Darwis Triadi School of Photography di Jalan Patimura No. 2 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada tahun 2002. Selain itu, Dawis sudah membuka cabang di Bandung dan Sura-baya.

Menurut Darwis, kesuksesan seseorang dalam bekerja dapat diukur dari bagai-mana dan seberapa besar keahlian da-pat bermanfaat bagi masyarakat luas. Dalam hidup, profesi harus dicintai karena mencintai profesi sama halnya dengan mencintai diri sendiri di dalam kehidupan.

Apakah dari keluarga Babeh ada yang mendalami dunia fotografi sebelumnya?
Bapak saya hobi motret. Bahkan kakak saya yang paling besar punya alat cetak, kala itu hitam-putih. Namun untuk profesi, dulu tidak begitu diminati. Justru sayalah yang menjadikan fotografer sebagai profesi.

Apa yang membuat Babeh memilih dunia fotografi dan meninggalkan profesi sebagai penerbang yang notabene termasuk profesi yang sangat bergengsi?
Dibilang bergengsi menurut saya tidak demikian, karena meskipun saya bangga seba-gai pilot, justru saya keluar dari profesi pilot karena kurang menyukainya. Ada sebuah pemikiran, saya berfi-kir kala itu karir saya tak akan bagus, karena saya bukan di airline, tapi di charter flight. Juga karena Ibu saya tidak merestui saya sebagai pilot, makanya saya memutuskan untuk menekuni fotografi dan berdasar feeling saya bahwa fotografi pun bisa dijadikan sebuah profesi.

Hal terburuk apa yang pernah Babeh alami dalam dunia fotografi?
Persisnya saya lupa apakah saya pernah mengalami hal buruk itu, tapi kalau kendala non teknis dalam proses belajar dan beradaptasi itu sangat banyak. Misalnya gagal motret dikarenakan cuaca atau jarak tempuh yang tidak mendukung dengan waktu yang dibutuhkan.

Adakah sisi negatif profesi fotografer dan apa sajakah itu?
Bicara sisi negatif bukanlah merujuk kepada profesi. Karena setiap profesi itu bagus. Masalah itu muncul dari manusianya sendiri. Misal, fotografer menjalani profesinya tidak pernah belajar tentang sikap, mental dan spirit. Jangan baru terkenal sedikit sudah belagu.

Jangan menganggap semua dapat diraih secara instan. Jika tidak dijalani dengan benar maka kelakuan bisa seperti kanak-kanak yang selalu ingin dipuji dan menang sendiri. Fotografer itu harus banyak belajar terutama sikap mawas diri. Kalau teknis sangat mudah mempelajarinya.

Sejauh mana karir fotografer itu bisa menjanjikan?
Kembali lagi ke individu pelakunya. Misalnya banyak anggapan bahwa profesi seorang dokter, lawyer adalah sangat menjanjikan, tapi kenyataannya banyak juga yang tidak laku.

Begitu juga dengan fotografer. Pengab-dian terhadap profesi adalah hal yang terpenting dengan mencintai dan men-jalani segala konsekuensi. Kita harus pandai mengendalikan diri. Belajar fotografi itu bisa dijadikan berkah bila dijalani dengan cara yang benar.

Apa proyek terbesar yang pernah Babeh kerjakan, dan bisakah menyebut nilai nominalnya?
Bicara nominal kepada saya adalah hal yang salah. Besar kecil bukan tolok ukur bagi saya. Nominal besar kalau tidak membuat kita enjoy maka tak artinya dibanding tidak dibayar tapi bisa membawa kita menikmati pekerjaan tersebut.

Proyek besar pun pernah saya tinggalkan. Jangan pernah bangga dengan proyek besar, hal tersebut akan menya-kiti perasaan orang yang memperoleh nominal kecil. Artinya jangan pamer. Kalau penghargaan dari suatu lembaga nasional atau bahkan internasional itu yang patut dibanggakan.

Apa karya pertama Babeh yang akhirnya mengangkat nama Babeh jadi pesohor fotografer seperti saat ini dan apa objeknya?
Sesungguhnya itu hanyalah sebuah proses. Saya sendiri tidak pernah meng-ingat foto apa kala itu yang membuat publik banyak mengenal saya. Bagi saya yang terpenting adalah menjaga dan mencintai sebuah eksistensi yang men-jadikan kita besar. Ada kisi-kisi baik yang kita ciptakan sehingga membuat kita dikagumi dan disenangi banyak orang.

Ketika kita sudah mencapai sesuatu kita harus bisa mempertahankannya. Bukan dengan hanya dengan karya, tapi juga dengan perilaku sehari-hari yang baik sehingga orang pun bisa mengenal kita dengan baik pula.

Ratusan bahkan ribuan fotografer tiap hari beredar dari berbagai kelompok dan kalangan. Saling sikut dan saling menyingkirkan bak politikus negeri kita. Hal seperti ini tidak perlu ada dalam dunia fotografi. Begitupun dengan saya, selalu berusaha untuk bisa masuk ke kalangan mana saja.

Siapa model yang pertama Babeh foto?
Titi Qadarsih. Lalu level-level jaman itu ada Rima Melati, Sumiati yang mungkin Anda kurang mengenal. Hampir semua saya foto. Dan mereka itu adalah artis yang sebenarnya. Dulu artis itu ya bener-benar orang yang banyak memberikan kontribusi dalam dunia seni dan hibur-an. Bicara kualitas, berbeda dengan zaman sekarang, berbuat asusila lalu tertangkap di sebuah hotel pun bisa disebut artis (dadakan – Red).

Kalau sekarang saya lebih suka memotret model-model yang bukan dari kalangan artis. Toh sama saja dalam memproses artistiknya.

Model yang berkualitas itu yang seperti apa?
Model yang berkualitas adalah yang menyadari tanggung jawab atas profe-sinya sebagai model, misalnya dengan ontime saat pemotretan. Model seka-rang macam-macam, ada model iseng, model medsos dan sebagainya.

Zaman dulu model sekurang-kurangnya tinggi badan minimal 160cm bahkan 170cm. Sekarang 145cm pun bisa setidaknya untuk model close-up. Dan hal tersebut sah-sah saja. Kalau peraga-wati atau model catwalk ya tentu harus berpostur tubuh tinggi.

Permasalahannya dewasa ini semua ingin diraih secara instan. Jarang disertai sebuah komitmen. Saya tekankan bah-wa komitmenlah yang harus dijalani profesi sebagai seorang model.

Kelayakan foto seksi itu sampai mana?
Seksi adalah cantik yang menggairah-kan. Apa salah? Tidak! Benar? Ya! Apakah seksi itu dosa? Siapa yang akan men-jawab? Tergantung mindset seseorang dimana antara satu dengan yang lain tentu saja beda menterjemahkannya.

Ketika memotret telanjang untuk keper-luan ilmu kedokteran tentu semua orang faham bahwa hal tersebut bukan porno-grafi. Akan tetapi ketika kita jalan-jalan di pertokoan tiba-tiba ada yang menyo-dorkan foto-foto telanjang untuk dibeli tentu orang tahu bahwa hal tersebut adalah pornografi, karena dalam proses pengambilan gambarpun sang fotogra-fer dan model bertujuan untuk mem-bangkitkan nafsu birahi bagi siapapun yang melihatnya.

Ironisnya mayoritas penduduk kita me-melihara kemunafikan. Ketika melihat hal-hal yang seksi terkesan tabu, tapi hasratnya berkata lain, bahkan secara diam-diam akan mem-buka situs pornografi bahkan blue film pun ditonton. Sebagian wa-nitapun akan melakukan apapun bahkan sampai ada yang meng-gunakan bahan kimia demi bisa tampil seksi.

Fotografer harus berpola fikir yang pintar. Memotret ya ber-tujuan menghasilkan seni yang luar biasa. Bukan nafsu birahi yang mendominasi. Kalau kita berpijak dalam kebenaran tak perlu takut apapun.

Adakah foto nude art yang Babeh buat dan dipublikasikan?
Ketelanjangan atau nude-art pun bagi saya adalah bagian dari seni fotografi. Bahkan saya membuatnya dalam sebuah buku. Dan semuanya tak satupun saya ambil di luar negeri.
Karena setiap fotografer pasti punya imajinasi layaknya seniman lukis. Pro-fesi, hobi dan hidup untuk fotografi ha-rus bisa digabung menjadi satu bagian untuk melakukan hal yang semaksimal
mungkin dalam bereksperimen.

Bicara gear, konon fotografer mahal itu sering dikonotasikan dengan dukungan peralatan yang serba mahal, nah tapi sosok Babeh sendiri mengapa akhirnya memilih kamera Mirrorless?
Jangan sekali-sekali fotografer memper-masalahkan alat atau lebih dikenal gear. Fotografi bukanlah alat. Tapi fotografi adalah bagaimana memahami cahaya. Dari dulu sampai sekarang saya masa bodoh dengan alat. Memang, jika kita menggunakan brand kelas tinggi adalah sebuah kebanggaan apalagi untuk para pembelajar. Tapi sebenarnya bukan itu tujuannya.

Apakah kamera mahal sudah pasti hasilnya bagus? Tentu tidak. Intinya adalah penggunaan yang sesuai dengan kebutuhan. Pandai-pandailah menyikapi, kalau kita membeli alat yang mahal tentu kita berharap ada kemudahan-kemudahan dalam menghasilkan karya dibanding dengan kamera yang lebih murah. Tapi bukan berarti kamera murah tidak dapat menghasilkan karya yang bagus.

Sebagai contoh, seseorang menggunakan kamera yang full-frame menurut kebanyakan anggapan bahwa kamera full-frame menjangkau gambar yang lebih luas. Lalu bagaimana dengan kamera yang tidak full-frame? Meng-atasi hal ini sangatlah sederhana, ambil sikap mundur beberapa langkah dari objek. Tentu Anda akan mendapat-kan frame yang sama dengan kamera full-frame tersebut.

Alih teknologi dari analog ke digital adalah revolusi yang luar biasa dimana ada hal-hal dari kamera analog yang tidak bisa dihasilkan dengan sistem digital yakni untuk menghasilkan sebuah gradasi. Tapi hal tersebut tidak perlu dijadikan kendala. Yang akan saya tekankan belajar fotografi adalah belajar tentang cahaya, bukan membeda-bedakan alat.

Tips, trik dan motivasi dari Babeh agar bisa eksis sebagai fotografer?
Kalau mau belajar tentang fotografi carilah informasi dari orang-orang yang memang mengerti tentang fotografi. Bicara fotografi adalah bicara kebenaran, bukan pembenaran. Banyak buku tentang fotografi yang beredar sebagian diantaranya adalah salah.

Memang dengan hasil-hasil bagus, tapi bagus tersebut dalam konteks editing. Kalau sudah demikian bukan fotografi namanya. Bukan berarti dengan mengedit tersebut adalah salah. Editlah seperlunya tanpa harus mengurangi esensi sebuah foto.

Tanggapan Babeh tentang fotografer modus?
Saya kurang suka dengan kata modus atau menggaet. Antara model dan fotografer adalah partner. Jangan sekali-sekali foto-grafer dijadikan sarana untuk menggaet, bukan itu kapasitas sesungguhnya. Dan biasanya fotografer laki-laki dekat dengan tudingan-tudingan seperti itu.

Fotografer adalah profesi. Bila kita spesial memotret orang ya harus pandai melaku-kan pendekatan dengan orang yang akan kita foto. Pelajari dengan sistem human psichology, belajar dari pengalaman itu lebih hebat dari membaca buku. Profesi fotografer jangan dijadikan sarana untuk hal-hal yang kurang terpuji. Karena hal tersebut akan merusak norma dan tatanan dunia fotografi. (st/aa/kfm)

Share on Google Plus

About KFM Official

Komunitas Fotografer & Model (KFM). SK KEMENKUMHAM : No. AHU-0072962.AH.01.07. Tahun 2016

0 komentar :

Posting Komentar